Bengkulu Daerah Inspirasi Lebong
Beranda » Berita » Puluhan Tahun Jadi Wartawan, Belum mampu memberikan yang terbaik Pada Pembaca ?

Puluhan Tahun Jadi Wartawan, Belum mampu memberikan yang terbaik Pada Pembaca ?

Spread the love

Penulis: Gafar Uyub Depati Intan

Dunia Wartawan (Jurnalistik) salah satu profesi (pekerjaan) yang menantang bahaya khususnya liputan, masalah yang komplek seperti; Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), praktik Mafia kasus, Pembabatan Hutan dan Pengrusakan Lingkungan, Pertambangan, (Emas, Batu Bara, Baja, Nikel), Mafia Perdagangan Sawit Ekspor) dan Minyak, kasus – kasus tersebut, pelakunya selain melibat oknum pejabat Negara, pusat dan daerah juga melibatkan para oligargi, preman bayaran dan oknum aparat penegak hukum.

Tidak terlalu sulit dilacak, namun menantang bahaya, karena pihak-pihak terlibat memiliki kekuatan luar biasa, mulai dari premanisme, oknum penegak hukum bersenjata.

Penulis sudah merasakan pahit getirnya menekuni dunia Wartawan, dieranya pemerintahan Orde baru (Orba), dan 6 Presiden berikutnya sampai sekarang, Agustus 2026 kendati sudah bekerja keras, fokus, mengakui belum mampu memberikan yang terbaik bagi daerah, dalam wilayah tugas yang terbanyak di Propinsi Bengkulu, Jambi dan Propinsi Riau.

Ini tantangan berat bagi Wartawan (Jurnalistik), apa lagi para oknum pelakunya belum berhasil dilumpuhkan (tangkap) aparat penegk hukum (APH) ?

Kepala Dinas DP3APPKB Lebong Benarkan Ada Siswi Magang Diduga Dilecehkan Oknum Pejabat

Dibalik tantangan yang kompleks itu, ancaman terhadap para Wartawan yang benar-benar mau membongkar kasusn dalam mencari kebenaran, siapa pelaku atau otak pelakunya dibalik Kejahatan yang luar biasa itu, dan  “menghancurkan ekonomi negara” dan menyensarakan rakyat, terutama kalangan bawah.

Kendati dunia Wartawan penuh tantangan, dari generasi kegenerasi minat warga Negara kian meningkat tajam memilih profesi Wartawan.

Padahal senjata terkuat dan tajam Wartawan, adalah Fikiran yang bersih dan rasa ingin tahu yang kuat dari sebuah peristiwa, cara kerja keras.

Senjata kedua adalah Pena, menulis mencatat sesuatu mengelola catatan penting dan mengembangkannya dari beberapa peristiwa guna mencari kebenaran, dengan asas kejujuran dalam melakukan peliputan.

Ternyata tidak mudah, menggeluti  dunia Wartawan, dengan rasa suka dan duka, dan ternyata lebih banyak dukanya.

12 Anggota DPRD Lebong Dapil I Jaring Aspirasi Masyarakat di Pinang Belapis

Dari tahun 1987 akhir, penulis menekuni dunia Wartawan dan mengakui secara terbuka belum mampu memberikan yang terbaik pada daerah (Pembaca yang budiman).

Terkadang yang diterima, “senyum sinis, cibiran, tekanan, dan teror mental dari pihak-pihak yang dihubungi dan diminta keterangannya, terutama dalam kasus Korupsi, (perampok uang rakyat), Penyalahgunaan jabatan dan wewenang, Pembunuhan, selingkuh para oknum pejabat untuk diungkap (ditulis) terbuka dan transparan, sangat sulit.

Apa lagi pelakunya belum ditangkap aparat penegak hukum (APH), selain ancaman terror, bahkan lebih parah lagi penganiayaan secara fisik, bahkan kematian dalam menjalankan tugas Jurnalitik, seperti yang terjadi pada kasus kematian saudara, Udin, (Fuad Muhammad Syafrudin) Wartawan Harian Bernas Jogyakarta, dan kematian Ersa Siregar Wartawan RCTI yang menyiarkan langsung dari lapangan peristiwa konflik Aceh -Gerakan Aceh Merdeka, (GAM) dengan aparat kita TNI/ Polri, Ersa Siregar, tertembak peluru nyasar, dan mengakhiri hidupnya.

Sebagai sama-sama Wartawan, kita wajib nengenang peritiwa itu. Demikian juga kasus Wartawan Udin, yang mengungkap banyak peristiwa dugaan Korupsi di Jogyakarta, Bantul dan sekitarnya, serta penyalahgunaan jabatan, oleh para oknum pejabat daerah dan Negara di era orde baru.

Selamat jalan sahabat, kami tetap mendo,akan dan mengenang kerja kerasmu dalam mencari kebenaran, dari apa yang sesungguhnya terjadi, saat itu?.

Reses Dapil II DPRD Lebong, Petani Keluhkan Kelangkaan Pupuk Subsidi

Dan sudah ratusan Wartawan yang hilang dan mati dengan kekerasan sadis, dan banyak yang tidak terungkap otak pelaku yang sebenarnya?.

Bagi rekanan Pers, Wartawan (Jurnalist), kalau bukan karena panggilan hati nurani, memang terasa sangat sulit jadi Wartawan, yang baik dan professional. Dan jasanya pun tidak dikenang, terkecuali oleh sama-sama insan Pers yang mencintai profesinya.

Pelarian : Selain tantangannya berat, berbagai bentuk ancaman, termasuk pada keluarga sang Wartawan apa lagi di era orba,sebutan kebebasan Pers hanya batas teori, kenyataan riil dilapangan tidak.  Dan banyak Wartawan dinyatakan hilang, sampai detik ini tidak tahu, dimana keberadaannya?

Hanya meninggalkan anak dan istri, menjalani hidup seadanya. Namun kebebasan itu semakin membaik sejak Reformasi 1998, 29 tahun silam. Runtuhnya kekuasaan orde baru, mundur / berhentinya Presiden Soeharto dari jabatannya selaku penguasa lebih kurang 32 tahun.

Dari pemerintahan yang dibangun ala dictator, banyak jasa kebaikannya yang berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan Negara dalam memajukan pembangunan secara fisik di tanah air yang kita cintai ini, sebagai Wartawan Independen, harus membedakan, “mana yang hasilnya baik dan mana yang buruk?” Kita tidak boleh menjastis semua buruk.

Dari era kebebasan Pers 1998 menjadi Kemerdekaan Pers, dimasa Presiden H BJ Habibie dengan Menteri Penerangan M Yunus Yosfiah, kemerdekaan Pers terbangun cukup baik, penerbitan Pers di permudah, lalu Pers berkembang, masih eranya media Cetak, Koran, Tabloid, Majalah, dan Buletin.

Dan punya nilai jual (nilai baca), yang cukup baik, karena terkonfirmasi dengan baik sebelum naik cetak dan menerapkan UU dan peraturan berlaku.

Tentu jauh beda dengan perkembangan media sosial (medsos), sebuah kemajuan yang tidak terkontrol, tak heran banyak pelakunya berurusan dengan aparat penegak hukum. Sering terjadi saling lapor dan lain sebagainya.

Ironis, tajamnya perjalanan waktu dan percepatan perubahan teknologi semakin canggih di medsos kian merusak mental dan kemampuan berfikir normal pemakainya.

Kini era medsos, dijadikan pelarian, termasuk profesi Wartawan umumnya online, karena tidak berhasil Tes masuk ASN, TNI / Polri, dan lain sebagainya lalu ikut-ikutan jadi Wartawan, apa lagi di era Mediaonline (saat) ini, “jadi Wartawan, asal mau mudah diterima diberbagai media, dan redaksinya kurang selektif?.”

Tanpa Tes, bahkan ada oknum yang sanggup membeli “Kartu Pers dan Surat Tugas” dampak negativenya sangat luar biasa buruknya, menjadikan Kartu Pers dan Surat Tugas, pelarian semata, dan tidak punya karya Jurnalistik?.

Inilah awal memperburuk nama baik Wartawan yang sungguhan berkarya untuk kepentingan umum.

Maaf, ini kecintaan Penulis, pada dunia Wartawan. Bukan kebencian terhadap para oknum yang mengaku-ngaku Wartawan, tapi semata menjaga nama baik Pers Nasional ?.

Meningkat tajamnya jumlah Wartawan (Jurnlistik) seharus memberikan kritik tajam untuk kebaikan, dan pembenahan pembangunan dari pusat sampai ke daerah, agart memberikan azas manfaat untuk rakyat, sebagai tujuan akhir pembangunan, justru di manfaatkan para oknum-oknum yang mengaku Wartawan jadi alat pemerasan.

Sehingga mengotori dunia Wartawan, seolah perangai (kelakuan) Wartawan itu sama.

Penulis yang sudah cukup lama menggeluti dunia Wartawan menghimbau pembaca yang budiman, melihat Wartawan jangan dilihat dari penampilan, dan banyaknya Kartu Pers dan Surat Tugas yang digantungkan dan di kantongi, tapi lihatlah Karya Jurnalist (berita) yang bisa memberikan azasmanfaat pada masyarakat luas.

Jadi dunia Jurnalist, berkembang pesat sejak lahirnya mediaonline, dengan modal kecil hanya batas mengurus Izin boleh terbit (tayang), tidak mempertimbangkan kelayakan SDM (Sumber Daya Manusia), tak heran masyarakat luas (pembaca) masih mengeluhkan banyaknya berita Hoax (bohong), jadi alat kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Dan merusak peradaban yang positif, menjadi negative dalam memajukan pembangunan daerah dan nasional, di segala sektor.

Menjamurnya para Jurnalist baru, kita sangat setuju berarti demokri berkembang cepat, sebagai wujud penyampaian kepentingan masyarakat luas, tapi tidak sebagai alat pelarian, hanya untuk mendapat pengakuan sebagai Wartawan.

Dan Pers nasional dalam fungsi, tugas dan tanggungjawabnya mengutamakan berita bagi kepentingan yang lebih besar dan kepentingan umum masyarakat luas, di segala sektor pembangunan. Yang tujuannya benar, memberikan azas manfaat. ( *** ).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement