LEBONG EKSPOSE — Sejumlah petani di Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, menghadapi kekurangan pasokan air menjelang musim tanam 2026. Kondisi tersebut terjadi di sejumlah areal persawahan, di antaranya Desa Talang Kerinci, Pelabuhan Talang Leak, dan Desa Bungin.
Mengatasi persoalan tersebut, para petani terdampak melakukan gotong royong membuka dan memperlancar aliran air dari sumber di Desa Karang Dapo Atas, Sabtu (15/8/2026).
Gotong royong dilakukan secara swadaya menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, linggis, dan batang kayu. Para petani menyingkirkan batu-batu berukuran besar yang menghambat aliran air menuju areal persawahan.
Salah seorang petani, Aswani Bros, mengatakan gotong royong dilakukan karena kebutuhan air untuk mengairi sawah semakin mendesak. Selama ini, petani mengandalkan aliran dari sumber Air Karat, Trokon, dan Embong 3.
“Kami berinisiatif bergotong royong karena air sangat dibutuhkan untuk mengairi sawah. Petani di sini mengandalkan aliran dari Air Karat, Trokon dan Embong 3. Kalau alirannya tidak lancar, tentu musim tanam akan terganggu,” ujar pria yang akrab disapa Bros tersebut.
Menurut Bros, kondisi kekurangan air paling memprihatinkan terjadi di wilayah persawahan Desa Bungin. Petani terpaksa melakukan upaya mandiri agar air dari sumber yang tersedia dapat mengalir hingga ke lahan pertanian.
Para petani bahu-membahu membersihkan jalur air dan menyingkirkan batu-batu besar yang menghambat aliran. Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan pengairan sawah terpenuhi sehingga musim tanam 2026 tetap dapat berlangsung.
“Harapan kami sederhana, sawah bisa mendapatkan air sehingga kami bisa menanam. Ini merupakan sumber penghasilan utama kami,” katanya.
Bros mengatakan gotong royong menjadi bentuk kepedulian dan kebersamaan petani dalam menghadapi persoalan pengairan. Namun, upaya swadaya tersebut dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan jaringan irigasi secara menyeluruh.
Karena itu, para petani berharap pemerintah daerah dan pihak terkait memberikan perhatian terhadap kondisi sumber air maupun jaringan pengairan di wilayah tersebut.
“Dukungan pemerintah dinilai penting agar persoalan kekurangan air tidak terus berulang setiap memasuki musim tanam,” sambungnya.
Bagi petani, ketersediaan air menjadi faktor utama untuk memastikan lahan sawah dapat ditanami. Mereka berharap pembenahan sistem pengairan segera dilakukan sehingga persoalan serupa tidak kembali menghambat musim tanam berikutnya. ( Red )





Komentar