BENGKULU EKSPOSE— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara di Kota Bengkulu cenderung memburuk, terutama pada pagi hari akibat kabut asap “kiriman” dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno mengatakan, berdasarkan parameter particulate matter (PM) 2,5, penurunan kualitas udara akan lebih terlihat pada pagi hari pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.

Foto: titik api Karhutla di kecamatan Rimbo Pengadang, kabupaten Lebong.
“Kalau di BMKG kita langsung mengeluarkan parameternya dari PM2,5, particulate matter 2,5. Justru di pagi hari jam enam sampai jam tujuh itu kualitas udara di Bengkulu menurun di kota, mencapai sangat tidak sehat,” kata Luhur di Bengkulu, Jumat.
Menurut Luhur, kondisi tersebut berkaitan dengan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah dan tidak hanya berasal dari wilayah Bengkulu. Hal itu terlihat dari tingkat kualitas udara yang memburuk jika dibandingkan dengan jumlah titik api yang terpantau di wilayah setempat.
“Nah itu kalau dibandingkan dengan jumlah titik api di wilayah kita, itu sebenarnya tidak matching ya, artinya berarti asap yang berada di wilayah Bengkulu, berarti bukan (dari asap kebakaran di Bengkulu saja),” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila penurunan kualitas udara hanya disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Bengkulu, tingkat keparahannya diperkirakan tidak akan setinggi kondisi yang terjadi saat ini.
Kabut asap tersebut, kata Luhur, didorong menuju wilayah Bengkulu akibat pergerakan angin. Kondisi kualitas udara yang buruk juga tidak berlangsung sepanjang hari.
“Saya tidak spesifik dari (provinsi) mana (asal asap), tapi itu yang jelas bukan dari wilayah Bengkulu, karena asapnya di pagi hari dan di siang hari sudah menurun menjadi bagus kualitasnya,” ucapnya.
Luhur menyebut kualitas udara di Bengkulu mulai membaik sekitar pukul 10.00 WIB hingga sore hari. Namun, kondisi tersebut dapat kembali berubah pada pagi hari berikutnya.
“Kualitas udara kita berfluktuasi, biasanya jam 6-7 itu sangat tidak sehat dan kemudian terus membaik di jam 10 sampai sore hari,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, warga diimbau memperhatikan kualitas udara, terutama pada pagi hari ketika konsentrasi PM2,5 berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Paparan kabut asap akibat karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Gangguan yang dapat muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, sesak napas, serta gangguan pada paru-paru.
Selain itu, polusi udara juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan kulit. Pada kondisi tertentu, paparan polusi dapat memperburuk penyakit seperti asma serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.
Masyarakat, terutama yang berada di wilayah terdampak kabut asap, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara yang terjadi pada pagi hari. ( Zee )





Komentar