LEBONG EKSPOSE — Dugaan praktik jual beli jabatan dalam proses pengangkatan kepala sekolah di Kabupaten Lebong, Bengkulu, semakin menyeruak. Bahkan, salah satu calon kepala sekolah yang batal dilantik, Amirul, mengaku pernah diminta menyediakan uang hingga Rp20 juta dan mengaku sempat menitipkan Rp10 juta kepada seseorang yang diduga menjadi perantara.
Inforasi terhimpun, pengakuan Amirul tersebut muncul dalam percakapan WhatsApp yang beredar. Dalam percakapan itu, Amirul menyebut permintaan uang tersebut berkaitan dengan proses pengangkatannya sebagai kepala sekolah.
Amirul diketahui merupakan salah satu calon kepala sekolah yang batal dilantik sebagai kepala sekolah definitif pada Februari 2026.

Foto: tangkapan layar pesan WhatsApp diduga antara Suhadi dan Marno salah satunya membahas tentang perubahan data kepala sekolah yang bakal dilantik
Dalam percakapan tersebut, Amirul mengaku awalnya diminta menyediakan uang sebesar Rp.20 juta. Namun, karena tidak memiliki uang sebanyak itu, ia hanya sanggup menyiapkan Rp.10 juta.
“Waktu itu saya diminta Rp.20 juta. Saya pikir kalau Rp.20 juta dari mana saya ambil uang sebanyak itu. Tapi kalau hanya Rp.10 juta waktu itu saya ada,” kata Amirul dalam percakapan WhatsApp tersebut.
Amirul kemudian mengakui uang Rp.10 juta itu sempat dititipkan kepada seseorang yang diduga menjadi perantara dalam proses pengangkatannya.
“Uang Rp10 juta itu sempat saya titipkan,” ujarnya.
Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti kepada siapa uang tersebut dititipkan dan apakah uang itu benar-benar berkaitan dengan proses pengangkatan kepala sekolah.
Informasi lain yang dihimpun ekspose.net menyebutkan, terdapat sejumlah calon kepala sekolah yang diduga sempat menerima pengembalian uang dari oknum yang disebut sebagai perantara. Pengembalian tersebut diduga dilakukan setelah calon yang bersangkutan batal dilantik sebagai kepala sekolah definitif.
Dua nama yang disebut dalam informasi tersebut yakni Yin Putri dan Siswanti. Namun, dugaan mengenai adanya pemberian maupun pengembalian uang tersebut belum berhasil dikonfirmasi terhadap pihak-pihak yang bersangkutan.
Nama Calon Kepala Sekolah Disebut Berubah
Dugaan adanya transaksi dalam proses pengangkatan kepala sekolah juga muncul dalam sejumlah percakapan WhatsApp lain yang beredar.
Dalam salah satu percakapan, nama Suhadi dan Marno Areko disebut membahas perubahan data calon kepala sekolah yang akan dilantik.
Dalam percakapan yang diketahui ditulis oleh Marno, terdapat pesan yang mempertanyakan perubahan data calon kepala sekolah meski sebelumnya disebut telah ditetapkan.
“Ngapo data tu dak berubah? Kemaren kan la fix galo dirumah ketua. Ngulang terus gawe kito ko.”
Pada percakapan lainnya, Marno juga menyebut adanya agenda untuk “mengitung jagung”. Istilah tersebut dalam konteks percakapan diduga merujuk pada penghitungan uang yang telah dikumpulkan dari sejumlah calon kepala sekolah.
“Hari iko jadwal kito ngitung jagung,” tulis Marno.
Sementara itu, dalam percakapan lain, seseorang yang diketahui sebagai Suhadi mengeluhkan adanya perubahan data yang disebut dilakukan oleh seorang oknum kepala bidang (Kabid).
“Meleset Kabidko, tau Kadis marahnyo,” tulis Suhadi.
Namun demikian, sejauh ini belum diperoleh keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan permintaan dan penyerahan uang tersebut.
Sebelumya, ekspose.net telah melakukan upaya konfirmasi terhadap nama – nama yang disebutkan. Namun hingga kini nama – nama yang disebutkan dalam pemberitaan belum memberikan keterangan resmi terkait kebenaran informasi itu. Hingga saat ini, upaya konfirmasi masih terus dilakukan terhadap pihak – pihak terkait. (Zee)





Komentar