Bengkulu Daerah Hukum Lebong Opini
Beranda » Berita » Wartawan Belajarlah Dari Tugas Kesulitan

Wartawan Belajarlah Dari Tugas Kesulitan

Foto: Ilustrasi
Spread the love

OPINI Perjuangan, Gafar Uyub Depati Intan

Profesi dan pekerjaan Wartawan sebenarnya penuh tantangan, apa lagi liputan yang masalahnya kompleksitas yang melibatkan banyak pihak dalam peristiwa yang terjadi dan fokus jadi liputannya, merugikan pihak tertentu, daerah, masyarakat dan keuangan Negara?.

Harus kreative dan selektif membaca peristiwa yang terjadi, dalam pengumpulan awal data peristiwa dan pengembangannya, jujur dan independen harus mengenyampingkan kepentingan oknum/ pihak tertentu, yang menguntungkan pribadi.

Karena pengertian Independen, semata hanya berpihak pada kebenaran. Bukan kepentingan pihak tertentu, yang mengabaikan kebenaran?

Dampingi Korban Kekerasan Seksual Anak, 34 Pengacara Hotman Paris Turun ke Lebong

Ternyata tidak mudah menjadi Wartawan, menekuni profesi Wartawan, (Jurnalistik) belajarlah dari banyak kesulitan dan tantangan dilapangan.

Wartawan sejatinya Independen, menolak intervensi dari pihak manapun, professional dalam menjalankan tugasnya sebagai Jurnalist Independen dan professional memberlakukan setara hak-hak semua pihak untuk memberikan keterangan.

Dalam liputannya Jurnalist Indenpenden, artinya semua pihak diberi ruang untuk bicara (berpendapat) atas peristiwa yang terjadi seluas-luasnya, dan di muat apa adanya.

Bukan, karena ada apa-apanya?.

Disinilah pinsip penerapan Independen secara factual menjadi ujian, kendati banyak pihak tertentu melakukan bantahan, dari peristiwa sesungguhnya tidak bisa di belokan pihak tertentu termasuk aparat penyidik, karena kepentingan tertentu?.

Dugaan Pungutan Dana BOS di Lebong, “Kutip” Rp.7.000 per Siswa

Kesulitan : Dilapangan, mulai dari sulitnya medan liputan, memerlukan ekstra hati-hati dan cermat. Kedua pihak yang akan di konfirmasikan, sulit dihubungi. Maka perlu dan penting melakukan komunikasi yang baik dan professional melalui telephone sellullar. Dan kuatnya ancaman dari oknum tertentu, agar peristiwa yang sebenarnya jangan terungkap. Wartawan harus memperbanyak sumber, sehingga salah satunya bisa dihubungi dan diminta keterangannya.

Dan kesulitan lainnya, karena ada hubungan kelurga, atau teman akrab, maka di beri penjelasan dengan baik dan lembut, terkait tugas dan tanggungjawab Wartawan dalam menjalankan tugasnya.

Kandati telah memiliki dan sumber fakta yang valid, harus di konfirmasikan pada semua pihak terkait. Pertama pada korban, kalau ia bisa memberikan keterangan, kalau tidak hubungi keluarganya atau pihak yang tahu peristiwa itu, atau saksi peristiwa, dan atau aparat penegak hukum, karena telah dilaporkan resmi.

Dan jangan lupa pemerintahan desa (pemdes) yang mengetahui atau telah diberi tahu oleh keluarga korban atau korban itu sendiri.

Setelah terpenuhi unsur 5W + 1 H, saat penulisannya, singkirkan dulu kepentingan pribadi sang Wartawan, singkirkan kepentingan oknum/ oknum aparat tertentu, untuk kepentingan tertentu di luar kebanaran, dan jangan terjebak atau mau dijebak.

Pelantikan Pengurus SMSI Lebong, Bambang Sutrisno Tekankan Profesionalitas Media

Dalam penulisannya tetap Independen, hanya semata untuk kebenaran. Bukan pembenaran, apa lagi pesanan untuk yang bayar.

Belajarlah dari Kesulitan tanpa henti, Kuatkan diri, Jiwa dan Raga. Syukurilah dan Kuatkan hati, Hidup dalam Kekurangan.

Informasi dan fakta yang diperoleh jangan dilelang? Karena lambat atau cepat, akan mencelakai anda (Wartawan) itu sendiri. Allahmaha tahu kesulitan hambanya, dan akan memberikan jalan terbaik baginya!

Terutama bagi orang Jujur, “dunia akan mengejarnya” ( Syekh Abdul Qadir Djailani ).

Artinya jangan takut susah dan merasa sulit menjalankan tugas, sebagai Jurnalist yang di segani “kawan dan lawan?” bukan sombong dan kehebatannya.

Scurity (keamanan): Dalam menghadapi liputan masalahnya kompleks, melibatkan banyak pihak dan oknum “aparat nakal,” perlu dibangun Kewaspadaan. “Takut jangan, Waspada harus” pertajamkan cara berfikir, sabar, kreative, bangun kerja profesioanal dan berani, tapi tidak ceroboh.

Dan bangun komunikasi dengan pihak yang pro dan kontra, hanya untuk mendapatkan informasi yang valid, guna di kembangkan secara professional, netral tidak berpihak semata untuk mengungkapkan kebenaran. Sehingga pihak yang dirugikan atau tertindas, bisa berdiri dengan kepala tegak, ditengah peristiwa yang di alaminya.

Berpuluh-puluh godaan: Penulis OPINI Perjuangan ini, sudah lebih kurang 38 tahun penuh menekuni profesi Wartawan (Jurnalist), memang sangat banyak godaannya, apa lagi meliput kasus oknum pejabat teras (penting) pembuat kebijakan didaerah, kabupaten/ kota dan propinsi, dan kasus oknum pejabat korup dengan selingkuhannya, godaannya antara lain, “Uang dan uang, kedua di ciptakan oleh pelaku keramahan dan baik, ketiga hiburan yang menggiurkan, dan keempat dijebak dengan hadiah?”

Bila empat cara diatas tidak lumpuh, maka bentuk permainanya diganti dengan cara-cara yang tidak wajar.

Pertama teror via telephone, ancaman terhadap anak dan keluarga Wartawan, juga tidak mempan ancaman fisik, bahkan ada yang berakhir kematian.

Maka wartawan professional, “takut jangan, waspada harus” dan selalu berfikir dan bekerja positif untuk kebenaran.

Ingat, jangan lupa dengan tuhanmu yang maha esa, bagi umat muslim (Allah-allah, dialah allah yang ahad (tunggal), memintalah perlindungan padanya.

Tiada yang lain, jika harus berakhir buruk, berarti takdir dan kodratnya allah.

Katakanlah hanya engkaulah yang maha kuasa, agung atas segalanya.

Hamba yakin, ada dan tiada, (berakhir atau tegak lurus) hanya karena engkau ya allah. Bismillah-bismillah-bismillah-bismillah.

Wartawan professional, secara teori dilindungi UUD 1945 Pasal 28 F, dan UU No40 tahun 1999 tentang Pers, itu benar adanya. Itulah fakta dan payung hukum kerja Wartawan di Indonesia.

Tapi, gerakan kejahatan tidak mengenal itu, yang jelas bagaimana kejahatannya bisa dilindungi?. Aman dan nyaman, setelah merampok uang rakyat, dan penyalahgunaan wewenang, senang-senang bersama selingkuhannya?.

Maka pada saat dalam keadaan tertentu wartawan perlu melakukan penyamaran untuk mencari fakta sesungguhnya, dan tak perlu “berlagak wartawan, apa lagi mengaku wartawan” hanya pada saat konfirmasilah menjadi keharusan memperkenalkan diri sebagai Jurnalistik dari sebuah media masa.

Wartawan harus licik dan cerdik dalam membongkar kejahatan, semata untuk menemukan kebenaran, harus berjalan diatas villar Kejujuran. SEMOGA – (***).

“HAI BUNG, BURULAH INFORMASI KEJAHATAN ITU, TANPA KENAL LELAH, TAKUT JANGAN WASPADA HARUS TAU, PREMAN BAYARAN TANPA MENGENAL BELAS KASIHAN, KAMU HARUS LICIK-CERDIK-CERDAS, BONGKAR TERUS WALAU DI UJUNG SENJA, HAAAA….!”  INGAT BERJUANG TANPA BATAS, BERAKHIR DILIANG LAHAT”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement